
Salah
satu Mazmur paling indah ialah Mazmur 23. Sebuah perikop untuk “segala
cuaca”, selalu “menyentuh” perasaan baik di kala suka dan duka. Ia
berbicara tentang “realita kehidupan” orang percaya. Nas yang memaparkan
berbagai situasi: padang rumput hijau, air yang tenang, jalan,
hidangan, minyak, piala dan rumah. Semua yang kita cari, kita
perjuangkan, untuk mereka kita bekerja keras; sekarang ini
istilah-istilah itu mengambil bentuk penghasilan, gaji, bonus, makanan
lezat, dan perumahan. Tetapi ia juga membuka fakta keseharian: lembah
kekelaman, bahaya, dan lawan mereka adalah ketakutan, ancaman dan
permusuhan. Semua ini tentu bukan hal baru: dari dulu sudah ada. Mungkin
ketakutan, ancaman dan permusuhan sendiri sering kita alami. Mengapa?
Sebab ketika kepastian semakin besar. Sering muncul tiba-tiba. Kita
takut hari esok entah apa yang terjadi. Kita takut kalau-kalau kita
sakit. Kita merasa tidak aman. Sikap permusuhan sulit dihindari. Selalu
ada orang yang tidak suka melihat kita. Banyak juga yang merasa berkuasa
menakut-nakuti orang lain, bahkan mengancam.
Pemazmur
sadar sekali situasinya. Kita tahu Daud mempunyai segudang pengalaman
pahit, diancam akan dibunuh, harus melarikan diri agar nyawanya selamat.
Pengalaman Daud menyuarakan pengalaman setiap orang: takut, terancam
dan dimusuhi. Tetapi ia juga menyanyikan sukacita orang-orang beriman,
orang-orang yang meyakini penyertaan Tuhan. Ia mewakili kita
mengungkapkan sukacita berjalan di belakang gembala, di belakang Tuhan,
Gembala kita. Mungkin kita bertanya mengapa jemaat diibaratkan seperti
domba? Apakah karena domba hewan manis, baik dan penurut? Tidak. Justru
domba itu lemah, sering tersesat, mudah dimangsa, dan mudah berantem
(diadu domba), jika tidak ada gembala mereka. Mereka sangat tergantung
satu sama lain: hidup berkelompok, gembala dan domba sangat dekat
Gembala mengenal mereka dengan baik. Ia memanggil domba-domba menurut
nama masing-masing. Dan domba mengenal suara gembalanya. Gembala lain
tidak akan mereka ikuti.
Sungguh
indah metafora domba dan gembala ini. Gembala berjalan di depan, tahu
kemana arah tujuan. Ia melihat padang rumput dan sungai dan akan melawan
pemangsa. Domba akan hidup sejahtera: menempuh bahaya tanpa takut dan
menikmati tuntunan gembala. Tuhan adalah gembala. Kristus kehadiran
Allah sehingga kita melihat dan mengikuti-Nya tanpa ragu-ragu! (Pdt. Dr.
Einar M. Sitompul)